Campak disebabkan oleh virus yang termasuk dalam genus Morbillivirus dari keluarga Paramyxoviridae. Penularan campak sangat cepat dan mudah melalui :
- Percikan saliva, ketika seseorang yang terinfeksi lalu batuk atau bersin, virus dapat menyebar ke udara dan menginfeksi orang lain yang berada di dekatnya.
- Kontak langsung, kontak langsung dengan cairan tubuh penderita bisa menjadi sumber penularan.
- Benda yang terkontaminasi, virus campak bisa bertahan hidup di permukaan benda selama beberapa jam. Bayi atau balita yang menyentuh benda tersebut kemudian memegang mulut atau hidungnya dapat terinfeksi.
1. Mata merah dan sensitif terhadap cahaya
2. Menyerupai gejala pilek seperti batuk kering, hidung beringus dan sakit tenggorokan
3. Lemas dan letih
4. Demam tinggi
5. Bercak kemerahan / rash
6. Sakit dan nyeri
7. Tidak ada selera makan
8. Diare atau dan muntah-muntah
9. Bercak kecil berwarna putih keabu-abuan di mulut dan tenggorokan
1. Bayi di bawah usia 12 bulan yang tidak diimunisasi campak
2. Anak yang tinggal di area padat penduduk
3. Bayi yang tidak mendapat asi eksklusif
4. Perjalanan ke suatu wilayah dengan tingkat campak tinggi
5. Kekurangan vitamin A
Virus campak mudah menularkan penyakit. Virulensinya sangat tinggi terutama pada anak yang rentan dengan kontak keluarga sehingga hampir anak rentan tertular. Campak ditularkan melalui droplet diudara oleh pasien sejak 1 hari sebelum timbulnya gejala klinis sampai 4 hari sesudah munculnya ruam. Ibu yang pernah menderita campak akan menurunkan kekebalannya pada janin yang dikandungya melalui plasenta dan kekebalan ini bisa bertahan sampai bayi berusia 4 - 6 bulan. Pada usia 9 bulan bayi diharapkan membentuk antibodinya sendiri secara aktif setelah menerima vaksinasi campak.
Dalam waktu 12 hari setelah infeksi campak sampai puncak sekitar 21 hari, igM akan terbentuk dan cepat menghilang untuk kemudian digantikan oleh igG. Cakupan imunisasi campak menyebabkan kekebalan kelompok (Herd Immunity) yang akan menyebabkan penurunan kasus campak di masyarakat.
1. Infeksi telinga
2. Diare dan muntah
3. Dehidrasi
4. Pneumonia
5. Kebutaan
6. Bronkitis pada anak
7. Encephalitis atau radang otak
Pemeriksaan klinis dokter biasanya sudah cukup untuk mendiagnosis campak berdasarkan gejala-gejala yang muncul. Namun, dalam beberapa kasus, pemeriksaan tambahan seperti tes darah dan atau swab tenggorokan mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis.
1. Imunisasi campak
2. Berikan ASI untuk mencegah infeksi ini pada bayi
3. menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan
4. Rutin mendisinfeksi benda dan permukaan di rumah
5. Meningkatkan kekebalan tubuh anak dengan memberi asupan makanan yang bergizi, tidur yang cukup serta rutin berolahraga
1. Mengurangi aktivitas terlalu banyak di luar rumah
2. Hindari bersin sembarangan
3. Hindari melakukan kontak dengan orang lain
4. Mebiasakan rajin mencuci tangan
Referensi:
Meilani Rina, dkk. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Campak di Puskesmas Wonosari Kabupaten Kudus. PSKM Stikes Cendekia Utama Kudus. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat STIKES Cendekia Utama Kudus Volume 2 Nomer 2.
Hamzah Hamriyana. 2023. Kasus Campak pada Kasus Campak yang Divaksinasi Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2018-2020. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 13 Nomor 1.
Sumber: https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3490/apa-itu-penyakit-campak
Belum Ada Komentar